1.  2

     
    Pas dosen nge-share gambar ini, langsung dipajang di dekstop. Lumayan buat sentilan kalo pas buka laptop. Apalagi kalo udah mulai loyo fisik hati dan pikiran buat nugas :p hehehe.
Jam 22.46 dan saya masih bangun, biasanya gara-gara tugas yang sudah mepet deadline :D Selamat datang semester baru. Be nice ya. Aamiin.
Translate gambar buat yang bukan orang jawa : Ujian ngeluh, Tugas ngeluh, Skripsi ngeluh, Bapak Ibu kamu biaya-in kamu kuliah apa ya pernah ngeluh? :)

    Pas dosen nge-share gambar ini, langsung dipajang di dekstop. Lumayan buat sentilan kalo pas buka laptop. Apalagi kalo udah mulai loyo fisik hati dan pikiran buat nugas :p hehehe.

    Jam 22.46 dan saya masih bangun, biasanya gara-gara tugas yang sudah mepet deadline :D Selamat datang semester baru. Be nice ya. Aamiin.

    Translate gambar buat yang bukan orang jawa : Ujian ngeluh, Tugas ngeluh, Skripsi ngeluh, Bapak Ibu kamu biaya-in kamu kuliah apa ya pernah ngeluh? :)

     
  2.  40

     
    Karena ada kalanya kita menyebut nama seseorang untuk menjadi pasangan kita, sedang di luar sana ada seorang lain yang juga menyebut nama kita dalam doanya. Doa manapun yang akhirnya dikabulkan oleh Allah, menurutNya itu adalah jawaban yang terbaik. Bagaimanapun, doa berikutnya yang kita ucapkan adalah semoga hati-hati yang terlibat mendapat penerimaan yang lapang serta baik. Dan tentu saja, pengganti yang jauh lebih baik menurut Allah.
    — (via risalatulamanah)
     
  3.  1

     
    Jodoh, cinta, atau hal-hal lain yang menyangkut perasaan, terkadang menjadi sesuatu yang ‘berat’ bagi seseorang. Karena bukan dia yang memegang kendali. Ada Dzat yang menguasai keseluruhannya.
     
  4.  9

     

    Seberapa Besar Seseorang Menyayangimu

    Bagi sebagian orang, membuat pengecualian-pengecualian adalah sebuah bentuk menunjukkan rasa sayang yang seringkali tidak ia sadari atau disadari oleh orang yang disayanginya.

    Ada seorang yang sangat jengah menunggu. Jangankan 1 jam, menunggu 15 menit saja dapat membuatnya resah dan tak enak hati. Tapi seorang ibu dapat membuat pengecualian. Ya, meskipun biasanya ia adalah seorang yang tidak nyaman berlama-lama menunggu, hari itu ia duduk manis menungguimu dari pagi hingga kamu pulang dari hari pertamamu belajar di sekolah. Entah berapa jam ia menunggu dengan senang hati. Seperti itulah kamu seharusnya tau seberapa besar ibu menyayangimu.

    Ada lelaki yang enggan menangis dihadapan orang. Barangkali baginya menangis hanya akan membuatnya tampak cengeng dan menjatuhkan kewibawaan sebagai laki-laki. Tapi hari itu lelaki ini tidak peduli lagi ada banyak orang sedang menatapnya menangis. Karena ia sedang menangis haru sembari mengadzanimu yang baru lahir kemudian mengecup kepalamu. Seperti itulah kamu seharusnya tau seberapa besar ayah menyayangimu.

    Bagi sebagian anak laki-laki, bermain dengan anak perempuan bukanlah pilihan yang menyenangkan. Ribet katanya. Nanti menangis, nanti rewel, minta begini minta begitu. Tapi lihatlah, anak laki-laki ini membiarkanmu mengikutinya bermain setiap hari. Tak segan ia menjadi tamengmu ketika kamu diusili temanmu yang lebih besar. Seperti itulah kamu seharusnya tau seberapa besar kakak senang memilikimu sebagai adiknya.

    Apakah ada yang penakut disini? Aku penakut. Ketika di rumah sendiri, aku lebih senang mengunci semua pintu kemudian masuk ke kamar. Bagiku kamar lebih aman dan menenangkan karena aku dapat melihat setiap sudutnya. Tetapi setelah kamu mengucap janji itu, semuanya berubah. Pada awalnya aku mati-matian mengusir hawa tidak nyaman dibenakku. Namun saat ini, hampir setiap hari aku duduk di ruang tamu, membaca buku, atau melakukan apapun sambil memasang senyum paling ceria demi menyambutmu pulang bekerja. Seperti itulah seharusnya kamu tau seberapa besar arti seorang suami bagi pasangannya.

    Ada banyak hal yang tidak perlu diucapkan untuk menunjukkan perasaanmu. Terkadang seseorang tidak begitu pandai mengutarakan perasaannya. Bisa saja kita melihatnya dari sikap sehari-hari atau pengecualian-pengecualian yang ia lakukan untukmu. Maka cukuplah kita tau seberapa besar perasaan sayang itu untuk kita. Kita hanya memerlukan sedikit kepekaan untuk menyadarinya, meskipun jarang sekali sayang itu diutarakan.

    Apakah tiba-tiba kamu menyadari pengecualian yang dilakukan seseorang untukmu? Tambahkanlah. Dan semoga kesadaran itu datang bahwa ada banyak cinta yang ditunjukkan meski tanpa kata.

    Fiksi. Surakarta, 10 September 2014.

     
  5.  2

     
    Nak, kamu tau kenapa seorang ayah yang pergi bekerja untuk menafkahi keluarganya dianggap sedang berjihad? Seperti yang sedang kamu lakukan sekarang, duduk di bangku bus sambil menatap pedagang yang menawarkan berbagai macam dagangannya dengan pandangan beribu makna. Barangkali di matamu ini tampak berat, melelahkan, dan terkadang hasilnya tak seberapa. Tapi disitulah kebaikannya, sayang. Allah akan menghargai setiap usaha yang dilakukan untuk mendapatkan harta yang halal. Jadi jangan meremehkan pekerjaan apapun selama itu halal, nak. Bagaimanapun orang-orang itu telah begitu tangguh dengan memastikan keluarganya hanya menggunakan harta yang terdapat ridha Allah di dalamnya.
    — Fiksi. Ketika bus berhenti sejenak saat perjalanan pulang ke rumah. 9 September 2014
     
  6.  1203

     
     
  7.  5

     

    Ini kisah tentang anak-anak. Kisahku dengan saudara-saudaraku. Suatu hari aku menceritakan keluhanku pada seorang yang lebih dewasa. Saat itu ia mengatakan bahwa ibu dan ayah memang harus berbagi tugas. Seorang untuk mengayomi, seorang lagi untuk berbuat tegas pada kami. Agar kami tidak coba-coba dengan hal-hal yang salah. Saat itu aku hanya diam.

    Kini setelah aku betumbuh beberapa tahun, aku memiliki pendapat yang berbeda. Kelak ketika aku menjadi orang tua, aku akan membiarkan mereka mengutarakan apa yang ada di benak mereka. Menjadi orang tua bukan berarti membuat skenario untuk anak-anaknya. Menjadi orang tua artinya membimbing mereka untuk tidak salah mengambil skenario hidup, meskipun mereka membuatnya dengan keinginan mereka sendiri.

    Tegas dan keras memiliki makna yang berbeda. Tegas membuat seseorang mengerti batasannya sedangkan keras mengaburkan batas itu karena ketakutan yang ditimbulkan.

    Saat aku menatap ayahku, aku tidak memungkiri betapa aku mengasihi laki-laki itu. Aku tidak menampik betapa besar kasih sayangnya padaku. Kukatakan semua isi pikiranku, tentang aku ingin melakukan ini dan itu, bagaimana pendapatku tentang suatu hal, atau saat aku berbeda pendapat dengannya. Kukatakan itu semua, tapi hanya di dalam hati.

    Ya, laki-laki yang paling kukasihi, proses telah membuatnya menjadi seorang yang matang dan bijaksana. Hanya saja Ia telah membuat ‘kesalahan’ saat menjadi orang tua muda.

    Laki-laki ini adalah orang yan paling mengerti aku sekaligus paling tidak mengerti aku. 

    Ia mengerti aku dan segala kebiasaanku. Ia mengerti benda atau aktivitas yang kusukai. 

    Tapi Ia tidak pernah benar-benar mengerti isi hatiku. Karena aku terlalu takut untuk mengutarakan apapun padanya. Aku takut untuk menyampaikan pendapatku terlebih ketika aku tau pendapat itu berbeda dengannya. Barangkali, ayah yang sekarang sudah jauh lebih bijaksana dapat lebih menerima pendapatku. Hanya saja ketakutan yang telah Ia ‘biasakan’ sejak aku masih dini menahanku untuk mengutarakan isi hatiku, menahanku untuk menceritakan apapun yang sebenernya ingin kuceritakan padanya. Cerita yang hanya lantang bergema di dalam hati.

    Ya. Laki-laki terkasih ini adalah orang yang paling mengerti aku sekaligus paling tidak mengerti aku.

    Bagaimanapun aku tetap mengasihinya. Dan berdoa untuk semua kebaikannya.

    Tulisan : FIKSI 

    Surakarta, 4 September 2014

     
  8.  2149

     
     
  9.  20

     

    Apa yang menjadi (salah satu) ketakutanmu?
    Ketakutanku adalah ketika aku menjadi beban orang tuaku di akhirat nanti.
    Ya Allah, jangan Engkau bebankan kesalahan kesalahan yang telah aku perbuat kepada mereka.
    Sungguh mereka telah merawat anak perempuannya dengan baik, sungguh mereka telah menyekolahkan saya di tempat-tempat yang juga mengajarkan ilmu agama. Sungguh mereka telah mengajarkan semua yang mereka bisa.
    Jika saya berbuat salah, bukan karena mereka tidak memberikan pembelajaran yang baik pada saya. Sudah.
    Hanya saya yang terlalu bebal barangkali.

    Jangan Engkau bebankan kesalahan apapun yang hamba lakukan pada mereka di akhirat nanti. Saya bersaksi bahwa keduanya telah membesarkan saya denga baik..

     
  10.  2

     

    Hari Pertama Ramadhan 1435 H

    Saya bersyukur terlahir sebagai generasi tahun 90-an. Ingatan saya tentang Ramadhan begitu manis. Tadi malam saya melakukan shalat tarawih pertama saya di tahun 1435 H. Masjid dekat rumah saya dipadati jamaah, meski tidak seramai bulan Ramadhan dalam ingatan saya. Di kampung tempat saya tinggal, usai melakukan shalat tarawih berjamaah, sebagian jamaah akan tetap tinggal untuk melakukan tadarus Alquran bersama dengan kelompoknya masing-masing. Biasanya pembagian kelompok berdasarkan jenis kelamin dan usia.

    Saya bersyukur terlahir sebagai generasi tahun 90-an. Tadi malam saya bertemu dengan teman-teman kecil saya, kelompok tadarus yang selalu sama sejak pertama kali saya mengikuti tadarus.

    Bagi kami, ingatan kecil kami tentang Ramadhan begitu berkesan. Menjelang datang bulan Ramadhan kampung kami menjadi ramai sekali. Masyarakat begitu bersemangat menyambut Ramadhan, anak-anak tak kalah gembira membayangkan Ramadhan akan semeriah tahun-tahun sebelumnya.

    Saat kami anak-anak, usai sahur kami tidak tidur lagi - tak sabar menunggu subuh untuk sholat berjamaah di masjid. Setelah sholat subuh, kami tidak akan pulang ke rumah sebelum jam 6 pagi. Berjalan-jalan di jalan raya yang masih sepi kendaraan, melihat orang menyalakan petasan, pulang mengambil jalan memutar melewati persawahan, sungai kecil, dan pemakaman. Kami berjalan, bercanda, tertawa, berkejaran sebelum akhirnya berpisah di masjid untuk pulang ke rumah masing-masing.

    Seringkali pada pertengahan Ramadhan hujan mengguyur dengan deras pada malam-malam usai kami melaksanakan shalat tarawih. Keesokan paginya kakak saya akan berteriak memanggil saya dari luar rumah. Saya menyusulnya dan memekik kegirangan. Ya, hewan kecil bersayap rapuh itu kini memenuhi jalanan kampung kami. Laron. Begitulah kami menyebutnya.

    Kami segera mengambil sandal dan bergabung dengan teman-teman kami. Menunggui tanah-tanah berlubang yang dijaga - entah apa namanya, bentuknya seperti semut-semut besar - mengumpulkan laron sebanyak yang kami bisa. Hahaha. Bukankah bahagia sangat sederhana? Sesederhana tawa kegirangan kami ketika mengulang ‘ritual’ ini setiap tahunnya.

    O iya, laron-laron itu tidak pernah saya makan karena geli. Biasanya setelah kami cabuti sayapnya, kami berikan laron-laron itu kepada tetangga kami yang memang bisa mengolahnya. 

    Selepas asar kami akan memainkan berbagai macam permainan, mulai dari kasti, apollo, kontrakol, betengan, atau apapun. Saking senangnya kami tidak merasakan lapar atau haus meskipun hari sudah sore dan kami telah berpuasa seharian. Semua larut dalam permainan hingga guru TPA kami datang.

    Saat guru TPA kami datang, kami akan berlarian ke rumah, mandi, mengambil iqro atau Alquran serta peralatan sholat, kemudian kembali ke masjid. Lepas mengaji kami menata meja-meja di pelataran masjid, duduk rapi di sepanjang meja, menunggu dibagi makanan dan minuman untuk berbuka. Guru kami akan memimpin kami untuk melafalkan doa-doa. Dan suara adzan menjadi begitu membahagiakan untuk kami : Hore, hari ini aku puasa satu hari penuh!

    Berikutnya suasana menjadi sedikit kacau khas anak-anak. Gelas yang tumpah, dengung bising disana-sini menceritakan kesuksesan puasanya selama beberapa hari ini, adik kecil yang menangis minta disuapi, takmir masjid yang meminta kami bersegera, serta orang-orang yang mulai berdatangan untuk shalat maghrib berjamaah. What a beautiful mess !! 

    Usai shalat isya, kami akan menyimak baik-baik tausyiah yang diberikan. Sesekali kami bertanya ini itu kepada teman atau ibu kami kemudian menuliskannya pada buku kegiatan Ramadhan yang diberikan sekolah kami. Tentang buku kegiatan Ramadhan ini, saya ingat saya tertawa ketika diberi buku yang sama saat duduk di bangku SMP. Masa iya kaya anak kecil, barangkali begitulah pikir saya saat itu.

    Selepas shalat tarawih yang diapadati jamaah hingga harus memnggelar tikar di jalan - yang seringkali kami lakukan bolong-bolong, tidak genap 11 rakaat - kami mengambil meja dan duduk melingkar dengan teman tadarus kami. Membaca Alquran bergantian sambil menunggu jajan yang diberikan, beberapa dari kami juga mengeluarkan jajanan yang kami bawa dari rumah. 

    Saya selalu tertawa ketika membicarakan masa lalu. Bagaimana kami ‘balapan’ untuk khatam Alquran dengan kelompok tadarus lain. Bagaimana kami tertawa-tawa sambil memakan jajanan yang berserak di atas meja, semacam balas dendam anak kecil setelah berpuasa seharian. Serta bagaimana kita kembali bermain petak umpet usai tadarus sambil menunggu ayah ibu kami yang masih mengaji. 

    Malam sebelum lebaran kami membeli kembang api dan kembang api tetes. Menggantungkannya di ranting pohon yang rendah sambil tertawa kegirangan saat kembang api itu menyala. Tak lupa ayah dan ibu kami akan mencarikan kami obor untuk ikut takbiran keliling dari kampung ke kampung. Biasanya usai takbiran saya pulang dengan wajah ditekuk-tekuk karena tidak diberi izin menginap di masjid, takbiran sampai pagi seperti kakak laki-laki saya.

    Well, begitulah kenangan masa kecil saya tentang Ramadhan. Semalam saya mengamati kemudian tersenyum. Ramadhan saya lebih ramai daripada Ramadhan adik-adik kecil ini. Meskipun saya tidak dapat menuliskannya seindah kenangan saya lagi-lagi saya bersyukur terlahir sebagai generasi 90-an (barangkali kami generasi terakhir yang menikmati kebagiaan tradisional itu). Bisa buat cerita ke anak cucu, hehe.

    Selamat menjalani ibadaha Ramadhan 1435 H! Itu Ramadhanku, bagaimana Ramadhanmu?