1.  3

     

    Inkontinensia Urine

    Manusia terlahir tidak bisa apa-apa, sehingga memerlukan bantuan orang-orang disekitarnya. Kemudian ia bertumbuh dan belajar begini dan begitu. Ia menjadi dewasa, hingga akhirnya menua dan kembali seperti keadaannya sedia kala, seperti anak kecil.

    Dulu saya pernah membaca, suatu ketika Rasulullah sedang menggendong anak dari salah seorang sahabat. Ketika dalam gendongannya, anak tersebut ngompol dan mengenai pakaian Rasulullah. Ketika itu, sahabat tersebut kemudian memarahi anaknya yang ngompol dalam gendongan Rasulullah. Dan jawaban Rasulullah adalah ‘jangan memarahinya. air kencing yang mengenai pakaianku ini bisa dibersihkan, tetapi hati anak yang terluka karena dimarahi belum tentu dapat pulih’. Kira-kira seperti itu.

    Di lain waktu, seseorang mengatakan kepada saya bahwa besok ketika seseorang sudah menua, Ia akan kembali seperti anak kecil, kadang Ia mengompol, kadang Ia begini atau begitu. Persis seperti anak kecil. Jadi yang sabar ya.

    Saat ini, saya sedang belajar modul urogenitalia yang meliputi uropoietica dan genitalia masculina. Ternyata secara medis, ketika anak kecil atau pun orang tua mengompol, hal tersebut bukan sepenuhnya kesalahan mereka.

    Pada proses berkemih, impuls yang dijalarkan akan terbagi menjadi dua. Satu impuls memunculkan refleks berkemih, dan satu impuls lagi akan dibawa ke korteks serebri sebagai mekanisme sadarnya. Di korteks serebri ini kemudian akan diputuskan apakah urin akan dikeluarkan atau ditahan.

    Saat anak-anak, korteks serebri belum berkembang secara sempurna. Sehingga ketika vesica urinaria terisi, impuls yang lebih dominan adalah refleks berkemih. Anak-anak kurang dapat menahan urin dan mengompol. Seiring perkembangan usianya, kejadian mengompol ini akan berkurang.

    Sedangkan pada orang dewasa, baik impuls refleks maupun impuls sadar bekerja sama baiknya. Akan tetapi, saat usia sudah tidak lagi muda, akan ada penurunan fungsi organ termasuk otot spinchter yang menahan agar urin tidak keluar. Karena kelemahan otot ini, meskipun seseorang ingin menahan urinnya, bisa jadi urin tetap keluar, seperti pada orang yang sudah tua.

    Kurang lebih seperti penjelasan secara medisnya. Jadi benarlah bahwa kita harus belajar bersabar pada anak-anak dan orang tua. Terlebih bahwa hal tersebut bukan sepenuhnya ‘kesalahan’ mereka, hehe. 

    Semoga bermanfaat :) 

     
  2.  2

     
    Pas dosen nge-share gambar ini, langsung dipajang di dekstop. Lumayan buat sentilan kalo pas buka laptop. Apalagi kalo udah mulai loyo fisik hati dan pikiran buat nugas :p hehehe.
Jam 22.46 dan saya masih bangun, biasanya gara-gara tugas yang sudah mepet deadline :D Selamat datang semester baru. Be nice ya. Aamiin.
Translate gambar buat yang bukan orang jawa : Ujian ngeluh, Tugas ngeluh, Skripsi ngeluh, Bapak Ibu kamu biaya-in kamu kuliah apa ya pernah ngeluh? :)

    Pas dosen nge-share gambar ini, langsung dipajang di dekstop. Lumayan buat sentilan kalo pas buka laptop. Apalagi kalo udah mulai loyo fisik hati dan pikiran buat nugas :p hehehe.

    Jam 22.46 dan saya masih bangun, biasanya gara-gara tugas yang sudah mepet deadline :D Selamat datang semester baru. Be nice ya. Aamiin.

    Translate gambar buat yang bukan orang jawa : Ujian ngeluh, Tugas ngeluh, Skripsi ngeluh, Bapak Ibu kamu biaya-in kamu kuliah apa ya pernah ngeluh? :)

     
  3.  88

     
    Karena ada kalanya kita menyebut nama seseorang untuk menjadi pasangan kita, sedang di luar sana ada seorang lain yang juga menyebut nama kita dalam doanya. Doa manapun yang akhirnya dikabulkan oleh Allah, menurutNya itu adalah jawaban yang terbaik. Bagaimanapun, doa berikutnya yang kita ucapkan adalah semoga hati-hati yang terlibat mendapat penerimaan yang lapang serta baik. Dan tentu saja, pengganti yang jauh lebih baik menurut Allah.
    — (via risalatulamanah)
     
  4.  1

     
    Jodoh, cinta, atau hal-hal lain yang menyangkut perasaan, terkadang menjadi sesuatu yang ‘berat’ bagi seseorang. Karena bukan dia yang memegang kendali. Ada Dzat yang menguasai keseluruhannya.
     
  5.  16

     

    Seberapa Besar Seseorang Menyayangimu

    Bagi sebagian orang, membuat pengecualian-pengecualian adalah sebuah bentuk menunjukkan rasa sayang yang seringkali tidak ia sadari atau disadari oleh orang yang disayanginya.

    Ada seorang yang sangat jengah menunggu. Jangankan 1 jam, menunggu 15 menit saja dapat membuatnya resah dan tak enak hati. Tapi seorang ibu dapat membuat pengecualian. Ya, meskipun biasanya ia adalah seorang yang tidak nyaman berlama-lama menunggu, hari itu ia duduk manis menungguimu dari pagi hingga kamu pulang dari hari pertamamu belajar di sekolah. Entah berapa jam ia menunggu dengan senang hati. Seperti itulah kamu seharusnya tau seberapa besar ibu menyayangimu.

    Ada lelaki yang enggan menangis dihadapan orang. Barangkali baginya menangis hanya akan membuatnya tampak cengeng dan menjatuhkan kewibawaan sebagai laki-laki. Tapi hari itu lelaki ini tidak peduli lagi ada banyak orang sedang menatapnya menangis. Karena ia sedang menangis haru sembari mengadzanimu yang baru lahir kemudian mengecup kepalamu. Seperti itulah kamu seharusnya tau seberapa besar ayah menyayangimu.

    Bagi sebagian anak laki-laki, bermain dengan anak perempuan bukanlah pilihan yang menyenangkan. Ribet katanya. Nanti menangis, nanti rewel, minta begini minta begitu. Tapi lihatlah, anak laki-laki ini membiarkanmu mengikutinya bermain setiap hari. Tak segan ia menjadi tamengmu ketika kamu diusili temanmu yang lebih besar. Seperti itulah kamu seharusnya tau seberapa besar kakak senang memilikimu sebagai adiknya.

    Apakah ada yang penakut disini? Aku penakut. Ketika di rumah sendiri, aku lebih senang mengunci semua pintu kemudian masuk ke kamar. Bagiku kamar lebih aman dan menenangkan karena aku dapat melihat setiap sudutnya. Tetapi setelah kamu mengucap janji itu, semuanya berubah. Pada awalnya aku mati-matian mengusir hawa tidak nyaman dibenakku. Namun saat ini, hampir setiap hari aku duduk di ruang tamu, membaca buku, atau melakukan apapun sambil memasang senyum paling ceria demi menyambutmu pulang bekerja. Seperti itulah seharusnya kamu tau seberapa besar arti seorang suami bagi pasangannya.

    Ada banyak hal yang tidak perlu diucapkan untuk menunjukkan perasaanmu. Terkadang seseorang tidak begitu pandai mengutarakan perasaannya. Bisa saja kita melihatnya dari sikap sehari-hari atau pengecualian-pengecualian yang ia lakukan untukmu. Maka cukuplah kita tau seberapa besar perasaan sayang itu untuk kita. Kita hanya memerlukan sedikit kepekaan untuk menyadarinya, meskipun jarang sekali sayang itu diutarakan.

    Apakah tiba-tiba kamu menyadari pengecualian yang dilakukan seseorang untukmu? Tambahkanlah. Dan semoga kesadaran itu datang bahwa ada banyak cinta yang ditunjukkan meski tanpa kata.

    Fiksi. Surakarta, 10 September 2014.

     
  6.  2

     
    Nak, kamu tau kenapa seorang ayah yang pergi bekerja untuk menafkahi keluarganya dianggap sedang berjihad? Seperti yang sedang kamu lakukan sekarang, duduk di bangku bus sambil menatap pedagang yang menawarkan berbagai macam dagangannya dengan pandangan beribu makna. Barangkali di matamu ini tampak berat, melelahkan, dan terkadang hasilnya tak seberapa. Tapi disitulah kebaikannya, sayang. Allah akan menghargai setiap usaha yang dilakukan untuk mendapatkan harta yang halal. Jadi jangan meremehkan pekerjaan apapun selama itu halal, nak. Bagaimanapun orang-orang itu telah begitu tangguh dengan memastikan keluarganya hanya menggunakan harta yang terdapat ridha Allah di dalamnya.
    — Fiksi. Ketika bus berhenti sejenak saat perjalanan pulang ke rumah. 9 September 2014
     
  7.  1210

     
     
  8.  5

     

    Ini kisah tentang anak-anak. Kisahku dengan saudara-saudaraku. Suatu hari aku menceritakan keluhanku pada seorang yang lebih dewasa. Saat itu ia mengatakan bahwa ibu dan ayah memang harus berbagi tugas. Seorang untuk mengayomi, seorang lagi untuk berbuat tegas pada kami. Agar kami tidak coba-coba dengan hal-hal yang salah. Saat itu aku hanya diam.

    Kini setelah aku betumbuh beberapa tahun, aku memiliki pendapat yang berbeda. Kelak ketika aku menjadi orang tua, aku akan membiarkan mereka mengutarakan apa yang ada di benak mereka. Menjadi orang tua bukan berarti membuat skenario untuk anak-anaknya. Menjadi orang tua artinya membimbing mereka untuk tidak salah mengambil skenario hidup, meskipun mereka membuatnya dengan keinginan mereka sendiri.

    Tegas dan keras memiliki makna yang berbeda. Tegas membuat seseorang mengerti batasannya sedangkan keras mengaburkan batas itu karena ketakutan yang ditimbulkan.

    Saat aku menatap ayahku, aku tidak memungkiri betapa aku mengasihi laki-laki itu. Aku tidak menampik betapa besar kasih sayangnya padaku. Kukatakan semua isi pikiranku, tentang aku ingin melakukan ini dan itu, bagaimana pendapatku tentang suatu hal, atau saat aku berbeda pendapat dengannya. Kukatakan itu semua, tapi hanya di dalam hati.

    Ya, laki-laki yang paling kukasihi, proses telah membuatnya menjadi seorang yang matang dan bijaksana. Hanya saja Ia telah membuat ‘kesalahan’ saat menjadi orang tua muda.

    Laki-laki ini adalah orang yan paling mengerti aku sekaligus paling tidak mengerti aku. 

    Ia mengerti aku dan segala kebiasaanku. Ia mengerti benda atau aktivitas yang kusukai. 

    Tapi Ia tidak pernah benar-benar mengerti isi hatiku. Karena aku terlalu takut untuk mengutarakan apapun padanya. Aku takut untuk menyampaikan pendapatku terlebih ketika aku tau pendapat itu berbeda dengannya. Barangkali, ayah yang sekarang sudah jauh lebih bijaksana dapat lebih menerima pendapatku. Hanya saja ketakutan yang telah Ia ‘biasakan’ sejak aku masih dini menahanku untuk mengutarakan isi hatiku, menahanku untuk menceritakan apapun yang sebenernya ingin kuceritakan padanya. Cerita yang hanya lantang bergema di dalam hati.

    Ya. Laki-laki terkasih ini adalah orang yang paling mengerti aku sekaligus paling tidak mengerti aku.

    Bagaimanapun aku tetap mengasihinya. Dan berdoa untuk semua kebaikannya.

    Tulisan : FIKSI 

    Surakarta, 4 September 2014

     
  9.  2265

     
     
  10.  24

     

    Apa yang menjadi (salah satu) ketakutanmu?
    Ketakutanku adalah ketika aku menjadi beban orang tuaku di akhirat nanti.
    Ya Allah, jangan Engkau bebankan kesalahan kesalahan yang telah aku perbuat kepada mereka.
    Sungguh mereka telah merawat anak perempuannya dengan baik, sungguh mereka telah menyekolahkan saya di tempat-tempat yang juga mengajarkan ilmu agama. Sungguh mereka telah mengajarkan semua yang mereka bisa.
    Jika saya berbuat salah, bukan karena mereka tidak memberikan pembelajaran yang baik pada saya. Sudah.
    Hanya saya yang terlalu bebal barangkali.

    Jangan Engkau bebankan kesalahan apapun yang hamba lakukan pada mereka di akhirat nanti. Saya bersaksi bahwa keduanya telah membesarkan saya denga baik..