1.  2

     

    Hari Pertama Ramadhan 1435 H

    Saya bersyukur terlahir sebagai generasi tahun 90-an. Ingatan saya tentang Ramadhan begitu manis. Tadi malam saya melakukan shalat tarawih pertama saya di tahun 1435 H. Masjid dekat rumah saya dipadati jamaah, meski tidak seramai bulan Ramadhan dalam ingatan saya. Di kampung tempat saya tinggal, usai melakukan shalat tarawih berjamaah, sebagian jamaah akan tetap tinggal untuk melakukan tadarus Alquran bersama dengan kelompoknya masing-masing. Biasanya pembagian kelompok berdasarkan jenis kelamin dan usia.

    Saya bersyukur terlahir sebagai generasi tahun 90-an. Tadi malam saya bertemu dengan teman-teman kecil saya, kelompok tadarus yang selalu sama sejak pertama kali saya mengikuti tadarus.

    Bagi kami, ingatan kecil kami tentang Ramadhan begitu berkesan. Menjelang datang bulan Ramadhan kampung kami menjadi ramai sekali. Masyarakat begitu bersemangat menyambut Ramadhan, anak-anak tak kalah gembira membayangkan Ramadhan akan semeriah tahun-tahun sebelumnya.

    Saat kami anak-anak, usai sahur kami tidak tidur lagi - tak sabar menunggu subuh untuk sholat berjamaah di masjid. Setelah sholat subuh, kami tidak akan pulang ke rumah sebelum jam 6 pagi. Berjalan-jalan di jalan raya yang masih sepi kendaraan, melihat orang menyalakan petasan, pulang mengambil jalan memutar melewati persawahan, sungai kecil, dan pemakaman. Kami berjalan, bercanda, tertawa, berkejaran sebelum akhirnya berpisah di masjid untuk pulang ke rumah masing-masing.

    Seringkali pada pertengahan Ramadhan hujan mengguyur dengan deras pada malam-malam usai kami melaksanakan shalat tarawih. Keesokan paginya kakak saya akan berteriak memanggil saya dari luar rumah. Saya menyusulnya dan memekik kegirangan. Ya, hewan kecil bersayap rapuh itu kini memenuhi jalanan kampung kami. Laron. Begitulah kami menyebutnya.

    Kami segera mengambil sandal dan bergabung dengan teman-teman kami. Menunggui tanah-tanah berlubang yang dijaga - entah apa namanya, bentuknya seperti semut-semut besar - mengumpulkan laron sebanyak yang kami bisa. Hahaha. Bukankah bahagia sangat sederhana? Sesederhana tawa kegirangan kami ketika mengulang ‘ritual’ ini setiap tahunnya.

    O iya, laron-laron itu tidak pernah saya makan karena geli. Biasanya setelah kami cabuti sayapnya, kami berikan laron-laron itu kepada tetangga kami yang memang bisa mengolahnya. 

    Selepas asar kami akan memainkan berbagai macam permainan, mulai dari kasti, apollo, kontrakol, betengan, atau apapun. Saking senangnya kami tidak merasakan lapar atau haus meskipun hari sudah sore dan kami telah berpuasa seharian. Semua larut dalam permainan hingga guru TPA kami datang.

    Saat guru TPA kami datang, kami akan berlarian ke rumah, mandi, mengambil iqro atau Alquran serta peralatan sholat, kemudian kembali ke masjid. Lepas mengaji kami menata meja-meja di pelataran masjid, duduk rapi di sepanjang meja, menunggu dibagi makanan dan minuman untuk berbuka. Guru kami akan memimpin kami untuk melafalkan doa-doa. Dan suara adzan menjadi begitu membahagiakan untuk kami : Hore, hari ini aku puasa satu hari penuh!

    Berikutnya suasana menjadi sedikit kacau khas anak-anak. Gelas yang tumpah, dengung bising disana-sini menceritakan kesuksesan puasanya selama beberapa hari ini, adik kecil yang menangis minta disuapi, takmir masjid yang meminta kami bersegera, serta orang-orang yang mulai berdatangan untuk shalat maghrib berjamaah. What a beautiful mess !! 

    Usai shalat isya, kami akan menyimak baik-baik tausyiah yang diberikan. Sesekali kami bertanya ini itu kepada teman atau ibu kami kemudian menuliskannya pada buku kegiatan Ramadhan yang diberikan sekolah kami. Tentang buku kegiatan Ramadhan ini, saya ingat saya tertawa ketika diberi buku yang sama saat duduk di bangku SMP. Masa iya kaya anak kecil, barangkali begitulah pikir saya saat itu.

    Selepas shalat tarawih yang diapadati jamaah hingga harus memnggelar tikar di jalan - yang seringkali kami lakukan bolong-bolong, tidak genap 11 rakaat - kami mengambil meja dan duduk melingkar dengan teman tadarus kami. Membaca Alquran bergantian sambil menunggu jajan yang diberikan, beberapa dari kami juga mengeluarkan jajanan yang kami bawa dari rumah. 

    Saya selalu tertawa ketika membicarakan masa lalu. Bagaimana kami ‘balapan’ untuk khatam Alquran dengan kelompok tadarus lain. Bagaimana kami tertawa-tawa sambil memakan jajanan yang berserak di atas meja, semacam balas dendam anak kecil setelah berpuasa seharian. Serta bagaimana kita kembali bermain petak umpet usai tadarus sambil menunggu ayah ibu kami yang masih mengaji. 

    Malam sebelum lebaran kami membeli kembang api dan kembang api tetes. Menggantungkannya di ranting pohon yang rendah sambil tertawa kegirangan saat kembang api itu menyala. Tak lupa ayah dan ibu kami akan mencarikan kami obor untuk ikut takbiran keliling dari kampung ke kampung. Biasanya usai takbiran saya pulang dengan wajah ditekuk-tekuk karena tidak diberi izin menginap di masjid, takbiran sampai pagi seperti kakak laki-laki saya.

    Well, begitulah kenangan masa kecil saya tentang Ramadhan. Semalam saya mengamati kemudian tersenyum. Ramadhan saya lebih ramai daripada Ramadhan adik-adik kecil ini. Meskipun saya tidak dapat menuliskannya seindah kenangan saya lagi-lagi saya bersyukur terlahir sebagai generasi 90-an (barangkali kami generasi terakhir yang menikmati kebagiaan tradisional itu). Bisa buat cerita ke anak cucu, hehe.

    Selamat menjalani ibadaha Ramadhan 1435 H! Itu Ramadhanku, bagaimana Ramadhanmu?

     
  2.  6

     

    17.14

    Ketika saya menyayangi seseorang kemudian sedang minta diperhatikan, saya akan merajuk. Entah bagaimana caranya, asal kemudian saya dianggap ada. 

    Barangkali Tuhanpun demikian. Pada dasarnya, kita yang membutuhkan perhatian Tuhan bagaimanapun keadaan kita. Realitanya, kita sendiri yang sering lupa untuk tetap dekat dengan Tuhan. 

    Saat bahagia … kita terlena. Saat susah … kita bingung dan mendekat sedekat-dekatnya.

    Ah, bukankah Tuhan senang mendengar kita berdoa? Dan bukankah berdoa tidak hanya ketika kita membutuhkan? 

    Manusia mana yang tau rencana Tuhan. Dengan kedekatan yang senantiasa terjaga, barangkali hati akan tetap tenang disaat senang ataupun sedih. Kepercayaan bahwa yang Maha Kuasa akan selalu membersamai kita menjadi begitu kuat.

    Saya tau … berat bukan untuk menjaga keimanan tetap stabil dan cenderung meningkat? Berat. Berat sekali.

    Namun yang sering kita lupa, bukan Tuhan yang membutuhkan kita tetapi sebaliknya. Jangan sampai Tuhan harus membuatmu bersedih hanya untuk mengingatkanmu agar kembali. Dan jangan sampai, peringatan Tuhan menjadi sedemikian keras hanya karena kita sudah terlalu bebal dengan peringatan halus.

    Ketika sudah terlanjur diingatkan dengan keras … kenapa masih saja bersedih? Bukankah Tuhan masih menyayangimu? Ia rindu mendengar doa-doamu.

    Ya Allah, ampuni kami. 

     
  3.  1

     

    osce

    1. R : Mi, mulai besok sampai senin aku osce. doain ya, mi. osce-nya lancar, nggak remidi, nilainya bagus, terus pulang \o/. sekalian minta doain abah juga, terus mas ulum juga, sekalian dek syahid sama dek audi :D
    2. Umi : Iya, nanti minta doakan orang sekampung sekalian ya.
    3. R : *kemudian ngakak* beneran lho mi -____- kalo remed nanti aku nggak libur *kemudian mewek*
     
  4. #AORTA2013 #FRIENDS #FAMILY #MEDSTUD #ARTERIO #GATHERING #RAMADHAN #BUBER
We are ARTERIO Family :)

    #AORTA2013 #FRIENDS #FAMILY #MEDSTUD #ARTERIO #GATHERING #RAMADHAN #BUBER

    We are ARTERIO Family :)

     
  5.  2

     

    Kalau calon dokter hanya belajar untuk memperkaya knowledge, hanya berorganisasi untuk mengasah skill-nya, hidupnya hanya disekitar kampus saja, kuliah-praktikum-organisasi, tetapi ia tidak pernah mau ikut bakti sosial, tidak mau melihat keadaan masyarakat, percuma ! Knowledge bagus, skill mumpuni, tapi anda gagal berempati. 

    dr. Akhmad Isna. MMLC Nasional 3 Fakultas Kedokteran 2013

     
  6.  4

     
    Pemuda adalah penerus estafet perjuangan. Diserahkan atau tidak diserahkan masa depan ada di pundak kalian.
    — Doktor Ayoeb Amin. Materi Pemuda Islam, Moslem Managerial and Leadership Camp (MMLC) Nasional 3, 2013. Fakultas Kedokteran. 
     
  7.  5

     

    Kredibilitas

    "Jadi dokter itu harus kredibel. Maksudnya gimana? Ya berarti kalau misalnya mengedukasi pasiennya bapak kalau bisa jangan merokok ya, dokternya juga harus nggak merokok. Pasien biasanya lebih menanamkan apa yang dilihat dan dicontohkan daripada yang didengar. Kalau bilang bapak makannya yang teratur ya, dikurangi fast food nya, ya berarti kamu juga harus mengurangi makan fast food. Kalau bilang ibu diusahakan olahraga yang teratur ya, paling tidak seminggu 2 kali, kalian sebagai dokternya udah olahraga seminggu 2 kali belum?”

    *serempak nyengir innocent ke dr. Dirga* *epic*


    skill lab anamnesis - edukasi pasien obesitas

     
  8.  13

     

    risalatulamanah:

    annisaadejanira:

    Berhubung aku nggak romantis, nggak pandai merangkai kata, dan juga nggak kreatif, aku bisanya cuap-cuap sesuka hati, maka ijinkan aku menulis sedikit untuk teman dekatku bahkan bukan sekedar teman tapi juga saudara yaitu Risalatul Amanah.

    Aku pernah menulis “Memang perayaan hari lahir itu nggak ada. Tapi, di tanggal hari lahirmu itu orang-orang yang sayang, akan selalu mengingatnya.”

    Dan di tanggal hari ini tepat 20 tahun yang lalu kamu lahir di dunia bukan? 

    Berkurang usia sebenarnya bukan hanya pada saat tanggal lahirnya kan? Bahkan setiap detik berlalu umurnya saja sudah berkurang.

    Risa, dari dirimu aku belajar banyak hal, dirimu juga yang sabar menasehatiku. Teruslah menjadi Risa yang menebar manfaat ke orang-orang sekitarmu.

    Risa, semoga kelak menjadi dokter yang keren buat suami, anak-anakmu, keluargamu, tetanggamu, masyarakat, orang lain, dan juga aku! Hehehe. Maksudnya keren, banyak menolong dan menyembuhkan penyakit ;)

    Risa, semoga mimpi-mimpimu terkabul ya, dan dimudahkan juga dilancarkan menggapai mimpi-mimpimu.

    Risa, tetaplah ceria dan tegar! Sungguh dirimu itu luar biasa :)

    Risa, ah gakbisa ditulis semuanya disini. Maafkan temanmu ini yang belum jadi teman yang baik buat kamu ya?

    Ingat! Banyak orang yang sayang sama kamu :)

    Barakallahu fii umrik Risa.. ♥

    aamiiin. makasih banyak Annisaa :))

    super terharu baca ini :’)

     
  9.  1

     
    kepengen buku ini. dan tiba-tiba dikasih. super terimakasih :))
makasih juga buat surprise-nya temen-temen. 
@naelanabiela @nadiamailina @muhammaddhiya @mochammadichwanuddin @rafidahhelmi @vererikarina @adib @musahaidar :))

    kepengen buku ini. dan tiba-tiba dikasih. super terimakasih :))

    makasih juga buat surprise-nya temen-temen. 

    @naelanabiela @nadiamailina @muhammaddhiya @mochammadichwanuddin @rafidahhelmi @vererikarina @adib @musahaidar :))

     
  10.  2

     

    Bip bip.

    From : Umi 

    Ris, tadi umi habis wawancara orang tua sama pak Heri. Kata Pak Heri, nanti kalau pulang ke Solo, main-main ya ke SMA. 

    Reply : "Kenapa mi?"

    Bip bip.

    From : Umi

    Jangan hilang komunikasi.

     

    Pesannya singkat. Tapi kenanya dalem ke hati. Cuma begitu, tapi saya terharu. 

    Ah, ternyata diam-diam saya merindukan sekolah itu. Guru-guru yang sebenarnya perhatian, ada juga yang akrab seperti teman, atau berwibawa seperti Pak Heri. 

    Ternyata saya kangen belajar di sana.

     

    Betapa saya berhutang banyak maaf kepada guru-guru di sana :’)